Tiba-tiba saja seorang wanita di sampingku bertutur demikian. Yah, aku memang sedang menangis. Menangisi diriku sendiri, menangisi cintaku.
Rasanya telah terlalu lama aku bersabar, terlalu lama. Rasanya tak ada lagi yang ingin aku simpan untuk hanya menjadi beban, rasanya ingin ku ungkap semua rasa. Ingin ku ungkap semua perih ini, semua sakit ini, semua beban rindu ini.
Kasih, mengertikah kamu? Bertarung aku sendirian melawan perasaan diriku. Bertarung sendirian! Mengertikah kamu?
Mencabik tiap rasa yang tumbuh dari akar hati ini, mencabik terus-menerus hingga tak ada yang tersisa namun akar tetaplah menjejak dalam bumi! Mengertikah kamu?
Memohon Tuhan menghapus rasa ini agar dia kembali normal, memohon dengan sangat padahal dianya adalah fitrah setiap manusia. Aku memohon keburukan untuk sesuatu yang menjadi fitrahku! Mengertikah kamu?
Kamu tidak pernah mengerti kasih karena aku tak pernah mengatakannya kepadamu. Dan aku berharap rasa itu tetap terkubur rapat di dasar terdalam hatiku. Aku ingin engkau tidak pernah tahu. Aku ingin rasa itu cukup aku yang mengerti. Aku ingin kita tetap seperti dulu! Mengertikah kamu?
Nanti. Nanti jika rasa itu telah halal untukku ungkapkan, akan aku ceritakan hingga bagian terkecil yang bahkan engkau pun menjadi ragu, ”adakah ia di dalam diriku.”
Nanti. Nanti jika kamu telah siap dan aku telah mampu berdiri tegak.
Sudahlah pria, tak perlu menangis hanya karena cinta…
Kali ini wanita di sampingku menepuk pundakku. Posisiku tercekung, kedua tanganku melipat kakiku yang menyiku, rapat hingga belikatku menembus kulit punggungku. Kepalaku berada diantara dua siku lutut yang saling beradu. Di antara betisku, ada air dari kedua mataku. Dibawah kakiku, pantatku, bayangku, pepasiran telah basah. Sungguh, aku sedang menangis wahai kasih. Aku menangisi diriku karenamu. Karena kamu…
Wanita itu mulai memelukku, pelukan yang erat namun terasa lembut. Amat sangat lembut dan menenangkan. Entah mengapa aku serasa dalam ekstase. Ada sedikit beban yang hilang.
Kali ini, pelukan itu serasa lebih erat. Wanita itu mengencangkan pelukannya kepadaku. Samar aku mendengar dia berbisik lirih, ”Pria…”
Aku serasa tak peduli. Aku hanya ingin kembali menata hatiku. Ada banyak cobaan yang kuhadapi, ada banyak rintangan, namun mengapa soal urusan cinta menjadi yang terberat? Mengapa harus cinta? Mengapa tidak yang lain yang jelas siapa kawan dan siapa lawan. Terhadap cinta, bahkan para pahlawan menjadi lemah dan tak berdaya.
”Aku mengerti pria apa yang sedang kamu rasakan. Aku pernah seperti itu, bahkan lebih berat. Namun kamu tidak perlu menangis.” Wanita di sampingku berbisik samar.
”Apa salah aku menangis?”
”Menangislah terhadap Tuhanmu, itu akan lebih berguna daripada untuk dirimu sendiri. Karena Tuhanmu lebih mengerti dirimu daripada dirimu mengerti tentang kamu.” Jawab Wanita itu.
Aku mengatup mulutku, mengigit bibir bawah. Wanita di sampingku itu benar, seharusnya aku seperti apa yang dia ucapkan, seharusnya. Namun hati ini masih terlalu rindu, dan rindu itu tertahan hingga yang mengalir hanyalah air mata.
”Apa kamu tahu Wanita, air mata ini bukan aku yang menginginkan. Dia memancar dengan sendirinya seperti mata air. Mata air dari hati yang sedang merindu.” Aku jujur.
Pelukan itu kini terasa lebih erat dari sebelumnya, wanita itu tidak juga hendak melepaskan pelukan itu, pelukan semakin mengencang. Aku merasa seperti sesosok yang begitu lemah dalam pelukannya, aku merasa telah kehilangan aku yang jantan. Tuhan menciptakan manusia sempurna, dalam kesempurnaan Tuhan juga menciptakan hati, dan karena hati maka pria paling jantan pun menjadi seperti mati.
”Hapuslah tangisan itu pria, hapuslah!” Wanita itu kini menegas.
Air mataku bukan terhenti malah semakin mengucur deras. Aku benar-benar tak sanggup untuk menghentikan tangisan ini, aku sama sekali tak sanggup. Andai wanita itu mengerti apa yang sedang aku rasakan, andai ia mengerti apa yang berkecamuk di dalam dada, anda ia tahu.
”Bukanlah sudah kukatakan aku juga pernah seperti itu.” Tiba-tiba wanita itu berkata seolah membaca apa yang kupikirkan. Tiba-tiba aku menjadi takut, apa dia iblis atau malaikat yang terutus untuk menenangkan aku? Aku takut.
”Andai aku mampu tegak sedari dulu. Andai aku mengucapkan lebih awal.” Aku mengingat kesalahanku.
Tiba-tiba wanita di sampingku itu berdiri, mungkin hendak beranjak. Kini dia berdiri di depanku. Badannya sedikit dirukukkan, kedua tangannya memegang pundakku. Kini dia berjongkok di depanku. Aku terkejut. Dia juga menangis.
”…” Episode diam.
Kali ini dia memelukku erat hingga aku merasa sesak. Aku mampu mencium bau harum farfumnya, wangi khas seorang wanita.
”Bukankah sudah kukatakan, aku juga pernah seperti kamu. Bukankah sudah kukatakan!” Ucapnya lirih. ”Tolong jangan menangis lagi pria, tak perlu ada air mata yang harus dialirkan oleh mata seorang pria hanya karena cinta. Tangguhlah, bersabarlah, semoga Tuhan memberikan yang terbaik dari kisah-kisah kita. Tuhan kita adalah Tuhan yang paling baik yang akan memberikan yang baik-baik dan terbaik untuk kisah-kisah terbaik. Jangan meragukan Tuhan, jangan sama sekali. Bersabarlah pria, dan tak perlu menangis.”
Sudahlah pria, tak perlu menangis hanya karena cinta…
Aku tak menyangka akan seperti ini. Dia adalah kasih terbaik yang pernah kutemui diantara semua kasih (wanita) di dunia ini. Aku mengagumi betapa lembut dan tangguh ruhiyahnya. Aku merasa telah menemukan apa yang sedang kucari selama ini.
Lahiriahnya, aku mencintainya. Ruhiyahnya lebih aku cintai daripada lahiriyahnya. Tak banyak kasih (wanita) yang seperti dia, tak banyak. Bahkan aku berani sumpah!
Bahkan seribu kasih (wanita) tak akan lebih baik daripada dirinya. Keutamaan dirinya daripada kasih (wanita)adalah seperti yang tampak dengan yang semu. Seperti kebenaran dengan khayalan. Kebenaran tetap lebih indah daripada sekedar khayalan. Karena Tuhan menyinari wajahnya dengan keimanan.
Dan orang itu pasti adalah pria yang terbaik. Hanya yang terbaik mendapatkan yang terbaik. Quran telah menjanjikan itu.
Apalah aku. Dengan keimanan yang carut-marut, dengan ruhiyah yang fluktuatif, aku benar-benar yang terburuk daripada yang terburuk. Aku merasa bahwa aku generasi gagal tarbiyah.
Dari sisi keimanan, tentu Tuhan lebih mencintai dia daripada aku. Tentu Tuhan lebih memberikan yang terbaik bagi dirinya daripada bagi diriku. Tuhan memiliki keinginan tersendiri terhadap kisahku dan kisahnya. Hingga pada suatu kisah seorang pria terbaik ditakdirkan untuk wanita terbaik.
Aku pasrah…
Karena cinta, aku menginginkan segala hal terbaik untuk orang yang terkasihi. Aku menginginkan segala yang terbaik untuknya. Aku menginginkan itu. Jujur aku memang menginginkannya, namun rasanya lebih pantas jika seorang pria lain yang terbaik untuk dirinya. Seorang pria dengan dedikasi kuat, keimanan baja, tangguh, sabar, dan penyayang. Seorang pria yang mencintainya bukan karenanya tetapi karena Allah.
kasih, aku mencintaimu karena Allah.
Aku mulai mengerti rasa yang berkecamuk di dalam diriku ini sebenarnya apa, sekarang aku mulai mengerti setelah aku mulai bisa mengeja bahwa tidak lama lagi kita akan berjarak. Baru aku menyadari betapa segala kekagumanku selama ini terhadapmu, segala keistiqamahanmu itu membuatku mencintaimu. Bidadari, aku mencintaimu karena Allah. Dari itu aku sadar, walau aku akan berjarak denganmu namun ada satu yang tidak pernah berjarak denganku dan aku tak akan pernah kehilangan Dia. Aku tidak akan pernah kehilangan Tuhanku.
Lantas Tuhan berfirman, shibghah manakah yang lebih baik daripada shibgah Allah.
Kasih, aku mencintaimu karena Allah.
Sudahlah pria, tak perlu menangis hanya karena cinta…
Cerita ini kupersembahkan untuk seorang temanku yang terluka oleh cinta, untuk seseorang teman yang memendam cinta terhadap seorang pujaannya yang akan dikhitbah oleh pria lain yang terbaik. Temanku, bersabarlah, tak perlu ada tangis dari mata pria karena cinta. Semoga Tuhan menceritakan kisah terbaik untuk dirimu dan dirinya.
Sabtu, 03 Januari 2009
Karena Cinta, Haruskah Pria Menangis ?.......
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 comments:
Posting Komentar